MEDIA BERITA LOKAL Personel Brimobย diminta melakukan pendekatan humanis dan meninggalkan cara kekerasan saat mengamankan aksi unjuk rasa. Hal itu ditegaskan Dankor Brimobย Polriย Komjen Pol. Ramdani Hidayat.
“Penanganan massa sekarang tidak harus dengan kekerasan ya. Kita tunjukkan dulu pakai soft power,”
Menurutnya, Korps Brimob menjadi kekuatan terakhir dalam penanganan unjuk rasa. Fungsi Binmas dan Sabhara menjadi lebih dikedepankan.
Adapun pendekatan ini merupakan upaya agar dapat menyamakan persepsi sebenarnya, baik dari tingkat pusat hingga daerah khususnya bagi Korps Brimob.
Sebab, katanya, unjuk rasa merupakan aktivitas yang tidak dilarang. Namun, jika aksi tersebut sudah mengarah kepada tindakan pelanggaran hukum, maka akan ditindak.
“Kalau unjuk rasanya sih, semua boleh-boleh saja unjuk rasa. Tapi kalau sampai pengrusakan, pembakaran, kemudian membuat jiwa seseorang terancam, bahkan sampai meninggal dunia, baru kita nanti tindak,” tambah Ramdani.
Modernisasi Alat dan Pelatihan
Sesuai arahan Kapolri, setiap anggota Korps Brimob dituntut siap dalam menghadapi segala situasi. Termasuk kondisi global dan dampaknya saat ini.
“Dampak dari perang Iran, Israel, sama Amerika, akhirnya berdampak ke seluruh, termasuk dampak kepada kebutuhan pokok, kebutuhan krusial masyarakat. Bukan masalah naik turunnya harga itu, tapi dampak naik dan turunnya harga itu. Maka Brimob Polri sangat membutuhkan personel Polri untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan berkaitan dengan permasalahan-permasalahan tersebut,”
Menyikapi arahan tersebut, Ramdani menegaskan bahwa pihaknya siap melakukan segala evaluasi dalam setiap kegiatan. Termasuk upaya modernisasi dan penguatan peralatan, hingga sistem pelatihan juga akan disiapkan.
“Kejadian-kejadian apa pun kita evaluasi dan kita benahi, termasuk penguatan peralatan, modernisasi peralatan, sampai sistem pelatihan. Itu yang kita siapkan semuanya,”
Puja Puji Kapolri untuk Brimob
Sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyebut Korps Brimob adalah pasukan elit kebanggaannya.
“Anggota-anggota pasukan elite kebanggaan saya,”
Sigit menegaskan, seluruh personel Korps Brimob untuk mengikuti perkembangan dinamika global, khususnya yang berdampak kepada situasi dalam negeri. Ia turut menyoroti konflik Iran dan Israel.
Menurutnya, eskalasi yang terjadi tak hanya pada korban jiwa, melainkan juga kerusakan infrastruktur dan gangguan pada sektor energi. Ini karena 20 persen pasokan energi dunia melewati Selat Hormuz.
“Artinya kita semua harus terus bersiap menghadapi situasi yang ada dan ini tentunya akan berdampak terhadap meningkatnya harga minyak dunia,”
Pada akhirnya, dampak ini akan dirasakan oleh dalam negeri karena meningkatkan harga minyak dunia akibat konflik, seperti kenaikan BBM dan LPG non subsidi. Akibatnya, kondisi ini dapat berdampak kepada ancaman gangguan keamanan dan ketertiban dalam negeri.
“Oleh karena itu tentunya kita semua harus selalu siap, kita semua harus selalu waspada, mempersiapkan diri untuk terus melatih menghadapi segala macam dinamika yang mungkin terjadi,”
Ia juga menekankan bahwa kekompakan dan kesolidan adalah kunci bagi Korps Brimob dalam menghadali situasi saat ini.


Leave a Reply